Mengapa Mercedes Melebarkan Sayapnya di F1 2025, Ini Alasannya

Mengupas kenapa Mercedes‑AMG Petronas F1 Team makin memperluas aktivitasnya selama Formula 1 musim 2025 — bukan sekadar performa di lintasan, tapi strategi jangka panjang, pemasok mesin, teknologi baru, dan posisi tim menyongsong regulasi 2026. Semua disertai sumber berita.


1. Strategi Menyongsong Era F1 Baru

Mercedes sadar perubahan besar lagi bakal datang dengan regulasi baru pada 2026 — termasuk cost cap yang naik dan aturan mesin serta aerodinamika yang berubah signifikan. Tim ini memilih untuk memperkuat struktur internal dan teknologi supaya bisa optimal saat regulasi baru ini berlaku. Mereka bahkan menggandeng cloud ERP dan solusi AI untuk data management dan efisiensi operasi di bawah cost cap yang baru. TechFinitive

Langkah ini bukan hanya tentang kompetisi musim ini, tapi juga memastikan Mercedes tetap kompetitif secara teknis dan finansial dalam jangka panjang, bukan cuma motret hasil balapan 2025 semata. TechFinitive


2. FOKUS TEKNOLOGI DAN INOVASI DI BALAP

Musim 2025 juga jadi ajang Mercedes memanfaatkan marginal gains lewat inovasi teknis dan digital. Misalnya, mereka pakai Augmented Reality (AR) buat mempercepat pembangunan dan pengujian komponen, yang mempercepat cycle development dan kurangi kesalahan manual mekanik serta teknisi test. Hal ini membantu tim makin efisien dan cepat adaptasi perubahan regulasi serta kebutuhan performa ekstra. Computer Weekly

Pemakaian teknologi seperti ini nunjukin tim bukan cuma “melebarkan sayap” di trek, tapi juga di belakang layar lewat R&D modern — sesuatu yang sering jadi pembeda antartim besar di F1. Computer Weekly


3. Mercedes Jadi Pemasok Mesin Utama di Grid F1

Melebarnya peran Mercedes juga terlihat dari posisinya sebagai pemasok unit tenaga untuk berbagai tim lain, bukan hanya buat tim pabrikan sendiri. Contohnya, Alpine memilih menggunakan mesin Mercedes mulai musim 2026 setelah Renault hengkang dari program mesin F1 mereka. Crash.net

Ini bikin Mercedes bukan sekadar kompetitor di lintasan, tapi penentu performa beberapa rival juga, karena power unit F1 adalah salah satu faktor kunci performa mobil. Crash.net


4. Menyusun Ulang Staf & Kepemilikan Teknologi

Musim ini juga ada kabar besar soal investasi strategi yang menambah beban kepemilikan — George Kurtz, CEO CrowdStrike, resmi jadi co‑owner dan technology advisor Mercedes F1, menunjukkan fokus tim pada isu teknologi, inovasi keamanan, dan data. Yahoo Finance

Ini bukan sekedar perubahan kepemilikan kecil — masuknya figur teknologi besar ke struktur tim F1 nunjukin Mercedes lagi ngedorong lini teknologi sebagai bagian utama strategi racing mereka selain optimasi mesin dan aerodinamika biasa. Yahoo Finance


5. Performa di Lintasan & Posisi Kompetitif

Sepanjang musim 2025, Mercedes memang belum bisa kembali dominan seperti era hybrid awal 2014–21, tetapi mereka tetap berada di papan atas klasemen konstruktor musim ini, bersaing untuk posisi kedua di belakang tim yang lebih kuat seperti McLaren. Antara News Jawa Timur

Posisi ini bikin Mercedes perlu memperluas aktivitas mereka bukan hanya soal mobil — tapi juga optimasi operasional, teknologi, dan rekayasa jangka panjang untuk tetap relevan di tengah persaingan yang makin ketat. Antara News Jawa Timur


6. Sustainability dan Lingkungan

Mercedes juga melebarkan sayapnya di luar lintasan balap, dengan fokus besar pada program decarbonization dan jalur logistik yang ramah lingkungan. Mereka mencapai 99% coverage biofuel HVO100 dalam logistik mereka di Eropa untuk musim 2025, memotong jejak karbon operasi tim secara signifikan. ESG News

Peralihan ke biofuel serta integrasi kendaraan listrik dalam transportasi tim jadi bagian dari brand dan strategi jangka panjang Mercedes, yang penting untuk stakeholder dan pemasok sponsor, juga relevan dengan citra ekologi Mercedes‑Benz secara global. ESG News


7. Fokus Pembalap & Regenerasi Tim Balap

Mercedes juga melakukan perubahan besar dalam formasi pembalap musim 2025 — mempromosikan Andrea Kimi Antonelli, talenta muda dari Junior Team, bersama George Russell. Langkah ini bagian dari strategi regenerasi generasi dan investasi di bakat muda, bukan sekadar bertumpu pada nama besar seperti Lewis Hamilton yang pindah. ANTARA News

Ini menandai bahwa “melebar sayap” bukan cuma soal upgrade mobil, tapi juga pipeline bakat baru dan brand narrative jangka panjang. ANTARA News


Kesimpulan

Mercedes memang tidak cuma sekadar “ikut balapan” di F1 2025. Tim ini melebarkan sayapnya lewat strategi multidimensi:

  • Adaptasi terhadap perubahan regulasi besar 2026 lewat infrastruktur operasional dan teknologi baru. TechFinitive

  • Integrasi teknologi inovatif seperti AR untuk mempercepat development. Computer Weekly

  • Ekspansi peran sebagai pemasok mesin ke tim lain. Crash.net

  • Investasi kepemilikan & teknologi lewat tokoh teknologi seperti George Kurtz. Yahoo Finance

  • Konsistensi kompetitif di lintasan, tetap bertarung di papan atas meski dominasi belum kembali. Antara News Jawa Timur

  • Komitmen terhadap sustainability dan operasi ramah lingkungan. ESG News

  • Talent regeneration lewat pembalap muda. ANTARA News

Semua faktor ini nunjukin bahwa Mercedes lagi nyusun skenario panjang buat bukan sekadar balapan hari ini, tapi juga jadi kekuatan relevan di F1 dekade berikutnya — dari teknologi, operasional, sampai keberlanjutan.